Cara Menyulap Rumah Usang Menjadi Lahan Bisnis Yang Menguntungkan

Rumah adalah aset yang bisa menjadi investasi sekaligus menjadi lahan bisnis, jika dikelola dengan baik. Sebab, investasi dalam bentuk rumah, memiliki perlakuan yang berbeda dibandingkan tanah saja. Lantaran, rumah ada biaya perawatan, biaya penyusutan dan lain sebagainya. Sehingga, perlu perencanaan dan pengelolaan yang matang agar menghasilkan keuntungan sembari menunggu nilainya bertambah.

Dalam menjadikan rumah sebagai lahan bisnis, perlu beberapa perlakukan khusus agar memiliki sesuatu yang menjual. Bagi yang memiliki aset berupa rumah yang sudah usang, jangan terburu-buru untuk merenovasi agar tampak baru dan berharap bisa dikomersilkan. Sebab, selain biaya yang besar, nyatanya rumah usang pun bisa menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan di era seperti ini.

Cara Mengubah Rumah Usang Jadi Lahan Bisnis

Di zaman sekarang, adanya sifting besar-besaran menuju serba digital dan juga adanya gig economy, membuat orang harus mengefisiensikan segaal sesuatu lebih baik lagi. Termasuk, dalam pemanfaatan rumah usang, dibandingkan harus merenovasi dan menjadikannya baru. Ternyata ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi lahan bisnis menggiurkan. Tertarik untuk mengetahuinya? Simak dalam ulasan berikut ini.

1. Riset Tren Sekitar

Pelajari apa yang sedang happening saat ini, mulailah lakukan riset dari banyak sumber. Sehingga, akan mendapatkan data apa saja yang sedang menajdi trens kemudian apa yang bisa kita lakukan dengan property yang kita miliki untuk menjawab kebutuhan itu.

Jika sudah, mulai petakan target market dan analisa apa saja amunisi bisnis yang dimiliki. Hitung biaya, dan lainnya untuk merealisasikan ide tersebut. Maksimalkan untuk memangkas biaya yang sekiranya tidak terlalu urgent. Misalnya, biaya pengecatan ulang, biaya untuk membeli property penunjang dan lain sebagainya.

Sebab, itu semua malah bisa dijadikan sebagami kelebihan. Misalnya saja menjadi rumah yang menawarkan konsep zaman dulu untuk keperluan fotografi, syuting film atau sekadar jadi tempat untuk lakukan hang out.

2. Konsep dan Tentukan USP (Uniq Selling Point)

Jika sudah membuat daftar prioritas dan alokasi biaya, maka tahapan selanjutnya adalah  membuat konsep utuh. Sehingga, dari daftar yang ada, dibentuk konsep yang paling sesuai dengan anggaran yang ada. Pertimbangkan yang pertama adalah soal kemanan bangunan. Jadi prioritaskan untuk mengganti tiang-tiang yang lapuk, atau jika dirasa mahal. Maka bisa dengan menyokongnya dengan tiang-tiang berupa bentukan utuh, agar nilai esetiknya ada.

Dari sekian banyak hal yang ada, mulai dari konsep, target market hingga competitor, maka pastikan untuk menemukan USP (Uniq Selling Point) dari rumah dan property yang ada di dalamnya. Ini berguna agar bisnis bisa berjalan dengan baik dan mendatangkan keuntungan.

Misalnya saja, rumah kuno yang dibeli dari orang atau warisan orang tua, konsep dengan nuansa pedesaan. Perluas teras dengan membongkar dinding depan. Barnag-barang usang, maksimalkan sebagai penghias interior agar lebih kental suasana zaman dulu dan desanya. Misalnya saja, piring klasik, strika bahan arang, cermin kuno, foto-foto keluarga dan lainnya.

Jika sudah, maka maksimalkan sentuhan pedesaan dengan menambah ornament-ornamen khas pedesaan. Misalnya, tanamn pisang artificial yang mungil, kursi-kursi bambu, lampu teplok dan property pendukung lain. Tidak lupa juga desain pelataran searsi mungkin, sebab desa indetik dengan suasana yang asri.

Nah, dari rumah usang tersebut, pertimbangkan untuk menjual aneka minuman dan makanan tradisional. Jika ada budget operasional lebih, datangkan seniman atau pemusik live untuk menghibur pengunjung. Beri standar operasional pada para pegawai untuk melayani dengan baju ala desa, serta aneka makanan khas desa yang sulit ditemui dalam kondisi biasa.

Menarik sekali bukan? Jadi jangan buru-buru merobohkan atau merenovasi menjadi modern pada rumah usang. Dengan sedikit sentuhan dan kejelian dalam membaca peluang, bisa disulap menjadi lahan bisnis. Selamat mencoba.

Comments

  • No comments yet.
  • Add a comment